The following is a beautiful Indonesian parable that has been going around in cyberspace through forwarded emails. I tried to find its source, but could not and realized it has yet to be translated. Maybe, this will be the first translated English version on the Internet. I happen to be on a reflective mode after watching August Rush, an inspiring movie and then found this Indonesian parable on Facebook. With a symphony of music playing inside me, it was a destined moment to be translating this beautiful parable. The power of this parable lies in its final words in Bahasa Indonesia as below:
"Jangan pernah menyesali hidup yang saat ini anda jalani sekalipun itu hanya untuk satu hari. Hari-hari yang baik memberikan kebahagiaan; hari-hari yang kurang baik memberi pengalaman; kedua-duanya memberi arti bagi kehidupan ini."
Do not ever regret this moment of your life that you are undergoing as it is but one day. The good days bring happiness. The less good days bring experience. Both brings meaning to this life.
My thoughts as a daddy here. If only we could step out of life like God to see each of the beautiful day of one's life played together as a rhapsody of music of high and low keys. If only we as daddies could step out of our busyness to see each day that has passed in our child's life - the growth, the learning, the joy, the meaning that has been created. That's life. It shouts with joy to its Creator for such a marvelous day created.
The parable of the bamboo and fern
One day, I decided to quit. To quit from my job, to quit from everyone, to quit from my spiritual journey. I went to the forest to speak with God for the final time.
"God", I spoke, "Give me one good reason not to quit."
His answer surprised me.
"Look around you", He said,"Do you see the ferns and the bamboos in this forest."
His answer surprised me.
"Look around you", He said,"Do you see the ferns and the bamboos in this forest."
"Yes", I answered.
God said, "When I first planted them, I sowed the seeds evenly and cared for them with fairness. I gave them light and water. The ferns grew rapidly, and its green spread across the land. Nothing sprouted from the bamboo seed, but I did not stop caring for them."
"In the second year, the ferns grew even faster and in greater numbers. Yet, still nothing sprouted from the seed of the bamboo. But, I never gave up."
"In the third year, nothing sprouted still from the seed of the bamboo, yet I would not quit. Same goes for the fourth year."
"Then, in the fifth year, a tiny sprout emerged from the earth among the ferns. Compared to the fern, it looked seemingly small and insignificant. Yet, 6 months later, it grew and climbed to a height of more than 100 feet. In the initial 5 years, it was devoting its energy to establish its roots underground. The bamboo can only grow large and tall with a strong system of roots. I would not allow my creation any trials that it could not handle."

"Do you, my child, know that in all your trials, you were actually growing your roots. Just as I had never given up on the bamboo, so it is the same with you."
God continued,"Do not compare yourself with others. The bamboo's purpose is different from that of the fern, yet both contribute to making the forest look beautiful."
God continued,"Do not compare yourself with others. The bamboo's purpose is different from that of the fern, yet both contribute to making the forest look beautiful."
"Fear not, my child, your time will come.", God said to me,"You will grow with great height".
I asked,"God,how tall should I grow?".
God replied,"As tall as the bamboos could grow."
I asked,"As tall as they are capable to grow?".
"Yes.",He answered,"Glorify Me with your growth, as tall as you could rise."
I walked out of the forest renewed. I am reminded that God would never leave me. Neither would He give up on you.
Do not ever regret this moment of your life that you are undergoing as it is but one day. The good days bring happiness. The less good days bring experience. Both brings meaning to this life.
Read more about bamboo's growth here.
The original parable in Bahasa Indonesia is below. Remember, you are special. Reflect always and give thanks for everything.
Suatu Hari aku memutuskan untuk berhenti. Berhenti dari pekerjaanku, berhenti dari hubunganku dengan sesama dan berhenti dari spiritualitasku aku pergi ke hutan untuk bicara dengan Tuhan untuk yang terakhir kalinya. "Tuhan", kataku. "berikan aku satu alasan untuk tidak berhenti?"
Dia memberi jawaban yang mengejutkanku. "Lihat ke sekelilingmu", kataNya. "Apakah engkau memperhatikan tanaman pakis dan bambu yang ada dihutan ini?" "Ya", jawabku.
Lalu Tuhan berkata, "Ketika pertama kali Aku menanam mereka, Aku menanam dan merawat benih-benih mereka dengan seksama. Aku beri mereka cahaya, Aku beri mereka air, pakis-pakis itu tumbuh dengan sangat cepat warna hijaunya yang menawan menutupi tanah namun, tidak Ada yang terjadi dari benih bambu tapi Aku tidak berhenti merawatnya.
Dalam tahun kedua, pakis-pakis itu tumbuh lebih cepat Dan lebih banyak lagi. Namun, tetap tidak Ada yang terjadi dari benih bambu tetapi Aku tidak menyerah terhadapnya." "Dalam tahun ketiga tetap tidak Ada yang tumbuh dari benih bambu itu tapi Aku tetap tidak menyerah begitu juga dengan tahun ke empat. "
"Lalu pada tahun ke lima sebuah tunas yang kecil muncul dari dalam tanah bandingkan dengan pakis, itu kelihatan begitu kecil Dan sepertinya tidak berarti. Namun enam bulan kemudian, bambu ini tumbuh dengan mencapai ketinggian lebih dari 100 kaki. Dia membutuhkan waktu lima tahun untuk menumbuhkan akar-akarnya. Akar-akar itu membuat dia kuat dan memberikan apa yang dia butuhkan untuk bertahan. Aku tidak akan memberikan ciptaanku tantangan yang tidak bisa mereka tangani."
"Tahukan engkau anakKu, dari semua waktu pergumulanmu, sebenarnya engkau sedang menumbuhkan akar-akarmu? Aku tidak menyerah terhadap bambu itu Aku juga tidak akan pernah menyerah terhadapmu. "
Tuhan berkata "Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Bambu-bambu itu memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan dengan pakis tapi keduanya tetap membuat hutan ini menjadi lebih indah." "Saat mu akan tiba", Tuhan mengatakan itu kepadaku. "Engkau akan tumbuh sangat tinggi""Seberapa tinggi aku harus bertumbuh Tuhan?" tanyaku."Sampai seberapa tinggi bambu-bambu itu dapat tumbuh?" Tuhan balik bertanya."Setinggi yang mereka mampu?" Aku bertanya"Ya." jawabNya, "Muliakan Aku dengan pertumbuhan mu, setinggi yang engkau dapat capai."
Lalu aku pergi meninggalkan hutan itu, menyadari bahwa Allah tidak akan pernah menyerah terhadapku dan Dia juga tidak akan pernah menyerah terhadap Anda.
Jangan pernah menyesali hidup yang saat ini Anda jalani sekalipun itu hanya untuk satu hari. Hari-hari yang baik memberikan kebahagiaan; hari-hari yang kurang baik memberi pengalaman; kedua-duanya memberi arti bagi kehidupan ini.

Dia memberi jawaban yang mengejutkanku. "Lihat ke sekelilingmu", kataNya. "Apakah engkau memperhatikan tanaman pakis dan bambu yang ada dihutan ini?" "Ya", jawabku.
Lalu Tuhan berkata, "Ketika pertama kali Aku menanam mereka, Aku menanam dan merawat benih-benih mereka dengan seksama. Aku beri mereka cahaya, Aku beri mereka air, pakis-pakis itu tumbuh dengan sangat cepat warna hijaunya yang menawan menutupi tanah namun, tidak Ada yang terjadi dari benih bambu tapi Aku tidak berhenti merawatnya.
Dalam tahun kedua, pakis-pakis itu tumbuh lebih cepat Dan lebih banyak lagi. Namun, tetap tidak Ada yang terjadi dari benih bambu tetapi Aku tidak menyerah terhadapnya." "Dalam tahun ketiga tetap tidak Ada yang tumbuh dari benih bambu itu tapi Aku tetap tidak menyerah begitu juga dengan tahun ke empat. "
"Lalu pada tahun ke lima sebuah tunas yang kecil muncul dari dalam tanah bandingkan dengan pakis, itu kelihatan begitu kecil Dan sepertinya tidak berarti. Namun enam bulan kemudian, bambu ini tumbuh dengan mencapai ketinggian lebih dari 100 kaki. Dia membutuhkan waktu lima tahun untuk menumbuhkan akar-akarnya. Akar-akar itu membuat dia kuat dan memberikan apa yang dia butuhkan untuk bertahan. Aku tidak akan memberikan ciptaanku tantangan yang tidak bisa mereka tangani."
"Tahukan engkau anakKu, dari semua waktu pergumulanmu, sebenarnya engkau sedang menumbuhkan akar-akarmu? Aku tidak menyerah terhadap bambu itu Aku juga tidak akan pernah menyerah terhadapmu. "
Tuhan berkata "Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Bambu-bambu itu memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan dengan pakis tapi keduanya tetap membuat hutan ini menjadi lebih indah." "Saat mu akan tiba", Tuhan mengatakan itu kepadaku. "Engkau akan tumbuh sangat tinggi""Seberapa tinggi aku harus bertumbuh Tuhan?" tanyaku."Sampai seberapa tinggi bambu-bambu itu dapat tumbuh?" Tuhan balik bertanya."Setinggi yang mereka mampu?" Aku bertanya"Ya." jawabNya, "Muliakan Aku dengan pertumbuhan mu, setinggi yang engkau dapat capai."
Lalu aku pergi meninggalkan hutan itu, menyadari bahwa Allah tidak akan pernah menyerah terhadapku dan Dia juga tidak akan pernah menyerah terhadap Anda.
Jangan pernah menyesali hidup yang saat ini Anda jalani sekalipun itu hanya untuk satu hari. Hari-hari yang baik memberikan kebahagiaan; hari-hari yang kurang baik memberi pengalaman; kedua-duanya memberi arti bagi kehidupan ini.
Do leave comments if you are using this as a discussion and share any discussion questions that you think of. There are plenty of questions as we bring heads together to apply this parable. Let the seed of my effort and yours benefit others. Let this seed grow roots as we reflect on its application.
2 comments :
Thank you for sharing such an inspiring parable as well as your beautiful, insightful thoughts. The pictures of your darling child are precious. You seem like such a great daddy. Check out mormon.org to know how families can be together forever!
Thanks for your kind words on your blog too. I have been getting feedback on how this parable can be used as a group discussion exercise. Sample questions: How often do we get disappointed when life seems tiring and slow, while we yearn for growth? What should we do in those moments? Should the fern or bamboo be envious of each other? Should the bamboo reach higher without waiting for its roots to grow deeper? Should both the fern and bamboo be grateful for the nutrients from the soil, sunshine and water and enjoy them to grow in strength?
Compile a list of discussion questions with more heads (and reflection) and leave them at my blog comment site.
May the growth of this little seed of my effort and yours glory Him. Reflection in action reaps greater growth of the seed.
Post a Comment